why do artists keep cancelling their eu tours

no time for musings, one must imagine M having a dump of thoughts.

  1. the possibility of going home (and homes?) after raya, visits, the warmth, trees. i shall have to equip myself with trying to appear formal and profesh, but this character building shall be the least of my worries.
  2. signed up for casis again – to be delighted by ancient manuscripts, colonial stuff, texts et. cetera
  3. have not been to my persian classes. sorry Faranak, i shall be better.
  4. the thought of spending a few weeks in London over summer is appealing, but at the same time, being confronted by a 50 pounds application fee (and the subsequent hefty bill afterwards) can be deterrent. but one says, why not?
  5. whatever innards cells penyemaian i have in me right now shall be interesting. one remains cautious of what this entails, jetzt und danach.
  6. my essay is going well, just need to stay up another half a night.
  7. i have the green man as my wallpaper, and this is enough deterrent to not bring the phone into the bathroom.
  8. the conflict is interesting, the un proceedings and councils are fun to watch, the speeches are laden with weight and careful considerations. implications of R-U on work, personal lives, prices, recalibrations or revisiting the meanings and boundaries of ethics, history, national borders, same sameness, language and how the world / established order of things will react shall be interesting to observe. but i, M, shall continue chilling.
  9. ibn arabi, how interesting is this fella?
  10. dinner conversations with A can be a pain, or even with F at times.
  11. F calls it arrogance, and unwillingness to bend / admit to faults or error, but is it pride, or simply one recognizes the limits of knowing / apprehension of others? I shall bow my head down and chill.

it’s do or die, kid / tidur tu kakak (dan) abang kepada kematian

(in celebration of Lings, Ghazali and all those semi-quasi-nihilist-mystics out there), feat. The Drums’ Heart Basel

minggu lalu berlalu dengan penuh atas naik turun bawah penat sakit kepala dengung dan haruslah diobati dengan filem Godard, mengayuh basikal dari sulz ke ehrenfeld (sihat), disaji dengan nasi lemak tempe (kurang sihat) sambil nongkrong kosong bersama teman-teman dan dicuri dengar pembaca-pembaca roman berpakaian musim panas tegar (why boi) di kafe.

kata Andrea, setelah saya berteriak tentang hal-hal kelangsungan hidup dan kami mula beransur ke pokok pangkal perlawanan jiwa seorang Mai, yang saya tak perlulah cuba untuk mendapatkan markah A sepenuhnya dan setiap masa “B-minus ist auch schon okay”. “dan kadang-kadang mereka yang terlalu banyak memenuhi (kehendak) orang lain itu akhirnya memakan diri sendiri juga”. auf deutsch, tentunya, dan saya kata, “ja, mungkin”.

(psuedo hyper-metafora incoming)

antara segalanya dan langsung tiada , saya (sering) berada di tengah-tengah arus dan cuba untuk tidak melawan arus (macam lao tzu, bukan macam lagu m nasir, lei lei lei lei lei) tapi pada masa yang sama tidak mahu tenggelam mengutip benda-benda yang boleh mengikat saya di dunia ini. bak kata Nadja dalam novel Andre Breton, “i am a soul in limbo”. ya saya.

jadi menyelam dan berenang dalam kehidupan orang lain itu sendiri merupakan sebuah hobi masa senggang. mendengar keluhan teman-teman tentang cinta, kerjaya, pindah rumah, minat dan arah tuju, thesis, buku, wang, harga elektrik, rusia-ukraine, ikan bilis, keluarga, anak-anak murid al-attas yang mengatakan recognition is not acknowledgement (tahu-kenal, knowledge-action), merancang segala rancangan, dan gambar-gambar bayi baru yang muncul di wasap, saya cuba mengambil semua ini (dengan penuh minat). tapi yo, hidup ini memang melelahkan, bukan?

saya tidur dulu Halim.

selama ini, ku mencari-cari

artis/genre pilihan minggu ini; Brothers “Hayya bil-Jihad”, “Teman Sejati”. Saujana “Keluarga Bahagia”.

lebih banyak draf-draf separa masak sekarang. saya sepatutnya tidak hanya berpuas hati menulis one-off sentences di Twitter berbanding mungkin, idea separa masak yang harus diletakkan di mana-mana.

pulang dari malaysia, saya cuba melawan keinginan untuk tidur awal, tetapi sekarangkan musim sejuk, jadi ini kerja sia-sia. jadi muncullah sesi-sesi empat pagi terjaga dan meratapi keberadaan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan the european mode of life. ini, yang saya ertikan sebagai sebuah kesunyian, kesejukan, mengetatkan muka dan badan, menjadi lutheran yang bekerja keras di waktu siang dan beristirehat di waktu petang (F dan siri Succession-nya) bersama kawan-kawan yang berdiri memegang gelas wain dan duduk bareng di hadapan skrin / permainan papan / mesin karoke. kita semua perlukan opium pilihan kita untuk meneruskan kehidupan, lalu saya pilih apa?

tentang hal kerja, yang saya nampaknya harus lebih serius, kuat berteriak, berlagak tahu semua benda dan pendek kata, harus lebih poyo gedebe. ini setelah berbual dengan para wanita dan mendengar keboringan melawan pihak atasan untuk meletakkan sebaris nama di laporan atau ditempatkan di lapangan di tengah-tengah Western Australia. girl, more power to you. jadi izinkan saya berpura-pura di hadapan delegasi UN di Geneva (onlinelah tapi) minggu depan, berbicara tentang memodenkan kapal-kapal dan feri yang melalui sungai Danube dan…. Mekong? Latiff Mohidin pasti bangga.

Saya, M, cuba mengambil semua ini dan memikirkan apa je yang penting dalam hidup buat masa sekarang – dan yang muncul hanyalah pokok kailan terung dan tomato yang disemai sebelum berangkat, primavera di Barcelona, Imran Khan, esei-esei yang tak tertulis, buku-buku yang tak terbaca yang saya katakan untuk PhD saya (eventuell) nanti, dan berangan-angan tentang menghabiskan tiga minggu di London mendengar kuliah di pagi hari dan melepak di malam hari. kita tunggu.

tapi untuk pagi ini, kita cuba joging di tepi Rhine. Also, Ciao und Bella.

where are we, anyway?

Song: Land Of The Loops – Multi-Family Garage Sale [Bargain-Bin Mix]

residual thoughts that should be put to bed because one is in Deutschland now, and should be occupied by German thoughts.

on buying land

it has jumped from ganu dreams (kampung raja, besut), to rembau dreams (gunung dato), to now perhaps the more realistic one, dabb dreams. KL doesn’t make sense, after perhaps being in almost all the major neighbourhoods in KL, the nice places (Wangsa Maju/Seattlewangsa/Taman Tun) are absurdly expensive, I refuse to participate in the rat race and rent if needed.

so, in this order, rembau for agriculture land (which I am not fit for, but will try anyway). dabb for a small 2-story conceptual home-space-kosans (3-5 units) designed by yours truly, then to perhaps subcon my ganu dreams to the many ganu dreamers we have. only then, my (long) stay in germany is justified.

trees and plants

a continuation from this.

successfully bought and planted; ketumbar jawa, cili jawa, bunga tanjung (hopefully this grows to 10 meters in 15 years), bauhinia (or pokok bunga oren menjalar), tomatoes, bunga raya, bunga kertas, alamanda, random flower trees. germinated: pakchoi, kailan, terung, perhaps coriander. died: pokok cengkih.

友達もいなくなって baby, it’s blue // mulberry dreams

disebabkan dah masuk tahun baru, kita harus setidak-tidaknya merajinkan diri untuk menulis setiap 2 minggu sebelum semuanya luput.

post-kuarantin tujuh hari, saya dan F telah banyak ke sana ke mari dan ini meletihkan. rasanya, setiap pelosok (baca: neighbourhood) KL tu dah kami masuk. dan tiap kali melewati beberapa jalan atau bangunan, memori-memori lama mula kembali. KL kini lebih walkable, Pasar Seni semakin hip (?) dengan budak-budak lepasan kolej ingin ber-instagram, mat basikal meliar baik di tengah-tengah kota atau pun di pinggiran bandar, ular-ular gergasi semakin berselirat tumbuh di celah-celah bangunan dan saya fikir (dan declare), saya ini seseorang yang lebih senang hati tinggal di luar bandar atau pun kampung. kunjungan ke sekurang-kurangnya 10 buah kediaman teman-teman menyebabkan saya rasa maintainance fees are ridiculous, tetapi mungkin tiada bezanya juga dengan konsep Hausmeister di Jerman.

tua-tua ni, adalah menarik untuk menyaksikan paksi (orientation) dan pertalian diri sendiri dengan orang lain di luar lingkungan keluarga nukleus (dan suami isteri). kedatangan ahli keluarga baru (walaupun di pinggiran) membuka ruangan kuriositi tentang ragam dan latar belakang orang lain. walaupun hal ini mungkin dapat di akses dengan berkawan, masuk persatuan, ahli kariah masjid, orang kampung, syarikat etc. etc, – kemasukan (dan penerimaan) segera orang luar memperlihatkan sisi-sisi menarik. objek : superbike, futsal, tab besar protein, minum petang sambil berbual mengenai orang yang mati jatuh berderai (berkecai?) dari tingkat ke-56 di ibu kota.

paksi (pendirian) maisarah terhadap alam sekitar dan pokok : bukan untuk hiasan, tetapi untuk tujuan makan, guna dan kalau panjang umur, berteduh. bonus kalau cantik, best kalau boleh makan. nota dari mbak nor dari madura setelah sesi urutan 2.5 jam ; 5 lembar jambu biji dan 1 batang serai direbus dua pulo minit kemudian di minum dua hari sekali – pecah lemak, jerawat, angin, peranakan, ALLES.

nota nota kecil ala madiha

  1. saya harus membeli buku nota muji 2022 saya.
  2. sedang menulis esei (separa merancang, sebenarnya), working title – cita-cita dan harapan wanita pasca-20an. harap berhasil.
  3. kota melaka sebenarnya sebuah kota yang bingung identiti… and the dutch keep no worthy records of melaka? seperti sebuah amnesia setelah kejatuhan kesultanan melaka dan seterusnya portugis dikalahkan, kecuali bangunan merah stadhuys.
  4. setelah berkeputusan saya sebenarnya takdelah berduit (hence no afgan carpet), patutkah saya berinspirasi untuk sekurang-kurangnya memiliki sebuah tas tangan berjenama?
  5. jadi, mungkin saya patut babai rencana ps5 saya?
  6. antara rembau dan pata.

wahai cik adik, jangan merajuk

it is now december, and some life updates are in order.

september

first, the thought of turning thirty has passed. on the night of the birthday over five dunkin doughnuts with numbered candles are blown, a brief existential crisis began. cue karaoke buses over the weekend over the rhein and dom with the smashing pumpkins and evanescence and nena being played, one must imagine Maisarah happy.

a series presentation to the ministries and #energybros, by this point the realization that one is listened to (whether in a webinar or in a meeting) can be quite a milestone. one is a “expert”, so to speak.

summer of walking, cycling, shawarmas and cafes.

october

portugal was nice. faro smelled of the sea, the morning mist made the city almost surreal. a tour over the neighbourhood to watch students marching in the beginning of the semester being “oriented” by their seniors (albeit in much smaller groups) – doing random tasks of wearing diapers holding hammers in the street, dip into the river, crawl like animals, and sing around the city. in almost every city, one can find weed. and so the lighthouse to the open sea. one must imagine the portugese crossing the ocean in search of the other. i tried surfing and hated it.

geres was magnificent. waterfalls and skinny dipping and old sheperd’s huts and crossing streams and being tailed by dogs and the endless mountains and the little hills we climbed, only to devour a healthy portion of salmon / chicken served with the boiled potato roasted with garlic and oil over.

lisbon is a city that is an endless maze. one can quite understand why pessoa doesn’t ever leave. good food, good drinks, good music, good company, a tolerable summer-october weather. cycling is impossible, walking more tolerable. this, and a day trip to coimbra to visit an old friend who is now a father. things are incredibly old here. another visit is in order to have more bolinhas.

november

i believe i don’t remember much. a poetry reading auf deutsch, sprinkled with a deepened understanding of the persian language. work wise, more countries to finish. brunei here, philippines da. one looks forward to the christmas market. two birthdays, tomato reis, board games, and cheese raclettes. a bonfire. s speaks of dancing on e. i am bored and completely out of my meds, after being convinced it attributed to me gaining wait. new acquaintances who ponder about the world of metaverse and dreams. maisarah with her idea of a novel where writing never developed (quite an impossible scenario, can only be allegorical). hiking in bland weather.

december

a job interview, that will mosy likely determine my fate in de for the years to come. either this, or maisarah will continue her phd, earn peanuts (but probably happier?), and look forward to eventuel finally going home.

i am home, for now. after last minute shopping runs, spontaneous dinners, here we are. i must say i am so far romanticizing home a little too much. but the change in the amount of space available at home with enough land and trees versus our 64 m2 apartment in the middle of the city, is a welcomed change.

(I need a doctor)

Sedang obsess dengan the drums sebab tak perlu perasan pseudo sedih tapi cuma mengamati kehidupan normal dan mundane.

Pulang dari Paris dan saya sakit kaki kerana banyak berjalan. Keterujaan saya melawat kota Perancis buat kali kedua agak low-key kali ini. Selesai mengutip kitab kitab kerajaan bima, kita berjalan menyeberangi Seine melalui Eifel dan bangunan putih opressive mencari kedai makan.

Satu hal yang wajib dirakam – kami mengunjungi mungkin satu-satunya restoran melayu di paris. Sambil makan kuay teow kung fu dan sate, filem-filem pendek dakwah dimainkan di belakang. Kanak-kanak sebagai pelakon. Orang yang memberi hutang dan memaafkannya pahala lagi besar. Bisnes berkembang berkat memakai kopiah capal di kepala. Baca doa sebelum keluar tandas.

Tukang-tukang masak muda berjerawat melambai-lambai dari dapur dan tidak berani menentang mata saya. Kami mengangkut beg di sebalik meja resepsi, yang (anehnya) bersebelahan dengan katil bayi. Saya memikirkan, apakah modus operandi GISB holdings dan semacam jenis apa pemikiran mereka. F sekadar berdiam diri, memikirkan zaman dakwah / tariqat / home schooling ibu bapanya di Amerika dulu. Saya memikirkan zaman kanak-kanak di UK dan saya cuma ingat akan tembikai, nintendo, bukit dan bunga dandelion – bukannya orang-orang dewasa. Terima kasih ABIM / islam moderat?

buka panggung

some unfinished sociological/anthropological thoughts;

1/ tentang bebanan budaya (“cultural baggage”)

selepas menelusuri jenis-jenis mumia, mayat, dan tulang rangka ribuan tahun dahulu pada petang ahad yang agak lesu di rumah – saya memutuskan bahawa adalah tidak sihat untuk (rasa) dibebani sejarah. dibebani dari segi pemangsaan diri (victimizing the self), dan juga pengabsahan sesebuah “kebudayaan” yang telah diatur ratusan atau puluhan tahun lalu – dalam percubaan untuk menggali asal usul diri ini. lantas Melayu, Islam, agama, bahasa, bangsa – cukup sekadar apa yang terbit pada memori nenek moyang kita – usah dipedulikan yang lain.

mungkin secara ringkasnya – adalah lebih mudah untuk kita mengukur asal usul menurut unit keluarga sahaja – ala ibn khaldun – cukup sekadar “empat generasi” – kemudian yang lain-lain bebas mencorak arah kehidupan masing-masing. ini terlebih dahulu sebelum memasukkan diri dalam acuan masyarakat / komuniti yang lain. ianya penting, namun unsur-unsur terdekat jauh lebih membentuk anda sebagai seorang individu berbanding “masyarakat” / “netizen” et cetera.

Readings :

  • Ibn Khaldun’s Mukaddimah
  • Shamsul AB’s theory on Nation of Intent

2/ tentang nama, kaum, pemerintah (“the state”) dan Radiohead’s How to Disappear Completely

adalah sesebuah kekesalan sampingan bahawa projek census atau bancian yang asalnya untuk mengetahui isi jajahan sesuatu tempat untuk tujuan ekonomi (baca: mengutip cukai) telah menjadi sebuah alat untuk mengatur kehidupan manusia dari kelahirannya sehinggalah dia mati. bermula dengan kad pengenalan – yang mematikan nama kepada si fulan bin si fulan yang lahir di negara ini – dia terpaksa akur dengan nama dan penempatan ini untuk tujuan-tujuan rasmi seluruh hidupnya. manusia tidak lagi bebas bergerak ke mana-mana yang disukai dan boleh mati dan hidup kembali dengan nama lain di tempat yang baru.

jadi pengadilan hidup dan nasib sesebuah itu berlaku secara berterusan – dari simbolik nama terakhir/penama/tribe/kaum/pekerjaan anda atau dari tempat asal usul yang mungkin jelek. maksud “exile” / dibuang negeri tidak lagi boleh berlaku melainkan anda tiba-tiba membakar segala dokumen anda, meninggalkan segala harta dan berlari ke sempadan Mediterranean – sebuah usaha yang benar-benar hidup atau mati. mungkinkah ada yang gembira dengan status stateless dan dinafikan hak-hak sebagai penduduk?

Readings :

  • James C Scott : Seeing Like a State
  • Basically…. world politics at the moment

3/ tentang asal bangsa manusia, jin dan segala dewa-dewa

sedang cuba mula menulis. will expand on this later.

one (lunar) year later / notes on gardening

this because i am constantly reminded by the presence of the moon. to count things in a minus 10 days framework. or that islam is the religion of the moon / night / the shadow. dr nyo nyo of myanmar from the summer school mentioning the moon provides light at night, which reminds one that man in its most primordial sense, relies on nature. throwback to walking in the moonlight in the paddy fields of some kampung in selangor.

plant thoughts; in the future possibility of actually buying a plot of land (which happens to have a dusun durian) in the next 1-2 years, i need to up my gardening skills. some observation notes from the past half year or so;

  • season (actually temperature) really plays a role in the germination of seeds. while sprouting can occur early on March/Feb, for leaves to sprout it needs adequate temperature and sunlight which is perfect around May/June. Based on the seed packets, harvest is mostly possible in September or October, but this varies greatly with the amount of sun-growth your plant has had earlier.
  • watering and growing roots i still need a crash course or more reading on this. the little tomatoes and chili i have have not grown in root enough. which makes me question; is this a matter of nutrients or water? does soil.
  • urban gardening sucks unless you have a 20m2 balcony to actually house plant boxes and worms. of course, the tropics are the best.
  • most friends and acquaintance resort to easy indoor plants and experimenting with growing avocado and mango seeds. my next experiment after should probably be with roots (ginger, galangal and turmeric)
  • hanging plants (herbs?) would work best in my apartment as the sun moves from the left to right of the window – maximising sunlight exposure. at the same time, putting them in absolute direct sunlight burns them to the point of bleaching.
  • the cooking essentials (for own use, also for new house); pokok limau purut, daun kari, serai, pandan, daun kesum, bunga kantan, bunga telang, halia, kunyit, lengkuas, ketumbar, thai basil, bawang putih dan bawang merah
  • ulams i have not figured out – this is a mystery but perhaps I am more of a simple timun person. pegaga and ulam raja, at the very least.
  • the lauks; kacang panjang, baby corn (how is this conceived?), lobak merah, labu, pakchoi, the greens used in nasi goreng, chickpeas, terung, timun, buluh rebung (but how crazy will this grow?)
  • the fruits; mangga, rambutan, betik, manggis, mata kucing, buah naga (?), pisang tanduk for kerepek purposes, nangka for vegan people purposes, tembikai for experimental purposes
  • the spices – as i believe most spices are imported from indonesia (with the exception of black pepper) – to grow own lada hitam (which i believe my grandma had her own), bunga lawang, bunga cengkih, kayu manis.
  • coffee? – as my mother once noted when growing up they had their own coffee tree, this would be an interesting experiment.
  • wood? which trees do they come from?

je est un autre

sebuah proses self-effacement mula berlaku apabila anda mendengar bob dylan dan memikirkan bahawa moments of clarity of perfection (for lack of a better word in Bahasa Melayu, mungkin ada dalam Bahasa Arab?) boleh berlaku kepada sesiapa, dan anda sedang membuang masa.

setelah jiran setingkap saya (maksudnya, balkoni dia dan tingkap apartmen saya berada dalam penglihatan masing-masing) menyepi selama seminggu, dia muncul bersama lima rakan lain dan melepak di luar. saya yang merasa terperangkap, mula bosan dan mendengar tjw. fragments; holy grail=hajarulaswad, glastonbury=hajj, druids=new age hippies. saya mudah terhibur agaknya. dan saya kontrakan momen ini dengan mendengar harari berucap mengenai dunia pesimistik ai bioinformatik china usa dll dll – saya merasakan harari tak ubah seperti dawkins; trendy (baca: diangkat) buat masa sekarang namun setelah tiga puluh tahun ideanya mula basi. manakala tjw – seingat perasaan saya dua jam lepas – seperti mata air yang tidak putus sumbernya dan sentiasa mengalir memberikan hikmat (what do you call pearls of wisdom? kata-kata geliga?) kepada sesiapa yang dekat dengannya. sendirinya dia sudah lama menidakkan dirinya, dan cuma menjalani usia sebelum mati.

i was going to say tap water, but mata air sounded more pretentious.

mungkin ini yang saya mahu; cuma menjalani kehidupan dengan aman dengan sebuah kepastian bahawa diri saya ini, baik-baik sahaja. kalau pun mati, biarlah pada waktunya dan kalau pun hidup (lama), biarlah sampai perlu sahaja. yang lain-lain – baik minat, keluarga (dan lantas keinginan berkeluarga), love in all forms, rakan-rakan dan well, the world – yang walaupun enak, kadang-kadang memenatkan jiwa juga.

untuk mencatat tentang minggu lalu – saya menerangkan, dua-dua kepada Andrea dan J secara asing, bahawa pengalaman lsd ini walaupun sebuah renjatan (?) akal yang gila dan kelihatan seolah-seolah sebuah momen yang mistikal / great / amazing / klar / kreativ / bodoh / hilang upaya otak yang digantikan upaya hati semata-mata (what i mean to say is… suspension of the brain), ia perasaan yang palsu.

quote of the day ; #gagalmerancangmerancangkegagalan