“you know how capable i am to just muse myself over anything to no end until the end of the world. take, take everything away, take my toys take my books take my brothers, and still i have myself to my self.”
Category: Uncategorized
primary colours
Frankly she is unpermitting and pretentious because her whole world is crafted around books and the events and occurrings surrounding her. There is nothing more she would like then to be profusely immersed into the heart of another that she would soon begin her own devices and weave an awry tragic tale, romantacizing everything treating every single dialog, conversation, gesture, as a holy mountain that she gazes with absolute wonder, or jealousy, or how can we describe this we don’t really know; it is as if the very thing was made and placed before her by god himself that she may only perceive it from afar, but not dare to approach it, because she is meek and weak and everything in between. She is the unholiest of them all, the most crafty, unoriginal thing in the world, that everything and everyone she touches becomes a farce. If Midas turns everything into gold than she turns everything into a wretched laughable thing that is so degenerated to everyone but her. She call her creations the most truthful of them retrieved , inspired, from life itself, but one could not help but wonder or question the source of her baseness, whether it was from horror itself or that she is merely amusing herself. Or perhaps she has always seen everything with different eyes. We would never know this, because we can only assume from afar, because there is only so much we can perceive from above.
that is you, explaining yourself to your self.
“of course i always have my reservations against people; at any possible moment, i am probably allergic to them, but that doesn’t mean that i don’t care about their general well being. i care enough to make sure they live in the most advantageous and most informed way possible. it seems as if fate itself had made me to be responsible of them. so if i cannot love them individually, i must love them collectively”
you know i just type whatever that comes to my mind here dont you
ukm bosan. kotanya kosong. perpustakaannya mati. tangga tangga yang dibangunkan di tempat tempat kurang strategik dengan laman ilmu yang dinodai sampah sarap dengan bangunan sains sosialnya cuma ada pakcik dan abang abang kurang hensem berbicara tentang hal hal lapuk yang ingin dilazaruskan dibuat kajian demi sijil pengajian sambil memerhati perempuan yang mundar mandir tanpa arah tuju sesat di sini dan disitu di tengah tengah batu batu konkrit yang tak berestetik ini. hutan dipinggir bangunan dipinggar semua terasing tiada dintegrasilan kecuali cahaya matahari yang membuatkan orang kasihan melihat kamu menerjah menerima panas pagi ini. suatu hukumbuat orang yang suka melangkaui batas batas bumbung yang tersedia selesa dari kereta ke bangunan ke bilik berekon nak endure sedikit panas pun kamu sudah menjerit mengadu tak nak diitamkan kulit putih mulus suci kamu itu. eleh.
babai saya nak baca kahlil gibran sebelum tido.
tadi ustat harundin cakap jangan keluar dari jemaaah. dan jangan bicara menjatuhkan hukum dan berfasal hal agama kalau kamu tidak arif tentang nya. dapat duit riba kamu pi sedekah pada orang ye.
ade senior saya sebuk ber-smm. frankly saya dah bosan dengan hal hal mahasiswa ini. baik lukis peta bas dan usul pada sharikat rapidkl saja bukan. atau berbual bual dengan kakak chantek kat kedai makan pece lele abang rain. dapat buku dan soda gembira lagi tu.
bababai.
lazying around
“dalam hati ada apa?”
“ntah”
“taman leh.”
“oo”
“dalam ehsan ada apa?”
“ada roh”
aaaah my brother.
typewriter tip tip tip tip, tip tip tip tip, karta hai
zindagi ki har kahani likhta hai
perd hapley
“jadi kalau kita mahukan dari sisi agama, kita boleh tanya abang Jabba. tapi untuk sisi radikal, kita boleh tanya Mamai ye”
ye heard, the perd.
bliss
bila kamu boleh lihat Submarine bersama sama sambil makan chocolate bites di atas couch petak petak kamu yang kamu kutip dua blok jauhnya dari rumah kamu untuk menghilangkan rasa mengantuk sebab memang dah lewat malam pun tapi kamu tewas juga berkali kali sekali untuk melihat perempuan berkot merah datang ke rumah oliver dua kali untuk melihat tate membaca kenapa dia mahu bunuh diri ketiga untuk lihat mereka berdua bersama anjing mereka berjalan menuju ke dalam air dan tamat tapi belum sebenarnya kau terus berbual mengenai hidup kamu rumet kamu kerja kamu agama kamu dan segalanya kau hamburkan pada aku sedang kereta kereta di luar dah berenti berbunyi hanya lori sampah didengari dan satu satunya sumber cahaya dalam bilik itu adalah dari tingkap kecil di atas rak buku kamu.
bumi manusia
Will be getting the book soon.
Aku rasa amat penting untuk semua orang punya rasa hormat terhadap orang lain, tak kiralah dia ini pekerja kamu, orang yang sediakan makanan kamu, pakcik yang salute sampah di tempat kamu, orang yang ambilkan aiskrim untuk kamu, orang yang bancuhkan coffee kamu. The working class. Mungkin juga, the laboring class, kerana para pekerja berkolar dan berkemeja dan berbaju kebaya semua nak mengaku diorang bekerja. Padahal mungkin saja kamu buat sesuatu di bawah hawa dingin artificial, habiskan masa berbual dan mengumpat sepanjang masa, dan beraspirasi kerdil untuk memiliki segala yang mewah tapi tak berguna.
Jadi, the laboring class. The one who sits behind buildings makan nasi bungkus yabg menggunung dengan kuah kari, orang orang yang berjalan kaki mencari kerja di rumah rumah membasuh dan mengemas segala. Segala ornaments, perhiasan yang sungguh, hanya menyusahkan dan menambah habuk dan bebanan. Useless, useless. Thoreau pernah cakap yang dia pernah mempunyai 3 batu kecil (pretty green stones i think), and looking at it, he trembled so much kerana tak tahu apa yang harus dilakukannya, maka terus dia buang ke luar tingkapnya. Simplicity, simplicity, simplicity he says.
There’s another story. Once there was a caliph yang ingin memberi derma pada orang orang miskin di kawasannya. Dia kemudian menyuruh seseorang mengumpul senarainya. Turns out, his own gabernor was a poor man. Jadi diberinnya 1000 dinar kepadanya dan ucap pertamanya setelah menerima wang adalah ‘ bala apa yang aku terima ini?’.
But nevertheless the laboring class. Manusia juga mereka ini, jangan kamu merendahkan orang sesama sendiri. Jangan mengatakan ‘itu kerja dia, jadi kenalah dia buat’, dan kononnya memisahkan diri kamu daripadanya, yang kamu itu lebih mulia darinya. Jadi kamu buangkan sampah di atas jalanan sedang tong terletak hanya semeter dari kamu di hadapan sang pengutip sampah itu. Kamu hina dia. Haih.
Tadi aku berbual dengan pembantu rumah aku yang datang secara berkala tiap dua minggu melakukan kerja kerja domestik. Kami makan nasi sambil borak borak mengenai hidupnya. Aaah the amount of respect (and that isn’t quite the word for it either. + Awe and Gratitude? ) I have for her.
Kemulian itu hanya terletak di sisi tuhan. Jangan angkat diri kamu itu more than necessary. If anything, be humble humble humble and reduce yourself to nothing.
but i’m trying to be neither
i’m trying to be nothing.
contradictory confabulations.
double the flame
“so even after a year, you’re still bitter”
“hah?”
“bitter”
“hah?”
“bitter”
“bitter? oh….”
heh.